Sumbangsih Manajemen dalam Mewujudkan Pendidikan Masa Depan

Posted on

Sumbangsih Manajemen dalam Mewujudkan Pendidikan Masa Depan

writed by : Nur Hadi

Pemimpin sejati pastilah manusia pembelajar,

tetapi seorang pembelajar

belum tentu seorang pemimpin.

Manusia pembelajar yang ingin menjadi pemimpin

harus bersedia menawarkan

visi-misi-strategi pribadinya kepada publik

untuk menjadi milik bersama. (Andreas Harefa)

Pendahuluan

Pentingnya manajemen yang efektif dalam organisasi pendidikan semakin banyak mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak. Madrasah akan lebih efektif dalam memberikan pendidikan yang baik kepada peserta didik jika mereka ter-manage dengan baik (Tony Bush, 2004). Karena kemampuan manajemen pendidikan menentukan keberhasilan organisasi dalam memberdayakan potensi sumber daya yang dimiliki melalui proses kegiatan kerja yang terkoordinir, integrated (terpadu), sinkron, dan simpel. Karenanya, kemampuan manajemen merupakan syarat mutlak (Qondisiosine Quanon) bagi setiap pimpinan organisasi yang mempunyai tang-gung jawab terhadap keberhasilan organisasi dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya (AR. Effendi, 2001).

Menurut Komarudin, manajemen dapat diartikan sebagai aktifitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya (Komarudin;1990) Sebagai suatu fungsi manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan pengawasan. Selanjutnya manajemen bisa disebut sebagai suatu sistem, yaitu suatu kerangka kerja yang terdiri dari komponen secara keseluruhan saling berkaitan dan terorganisasi dalam rangka mencapai tujuan.

Manajemen strategis merupakan penerapan pemikiran strategis dalam memimpin suatu lembaga. Dalam hal ini mengandung tiga hal : (1). Mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan akhir, (2). Memahami lingkungan, dan (3) kreatifitas dalam mengembangkan tanggapan yang efektif.

Manajemen tidak terbatasi pemanfaatannya hanya untuk kepala madrasah saja atau eksekutif kepala madrasah, tetapi ia juga dapat dikonsumsi dan dimanfaatkan oleh mereka yang bertanggung jawab terhadap pengembangan madrasah. Oleh sebab itu keterlibatan berbagai pihak dalam pelaksanaan pendidikan di madrasah merupakan suatu keharusan.

Peran Komite Madrasah dalam Me-manage Madrasah

            Dalam sistem desentralisasi sekarang ini untuk menentukan keberhasilan madrasah keberadaan komite madrasah juga mempunyai peranan penting dan merupakan faktor strategis.

            Uphoff (Nanang Fattah, 2004) mengemukakan bahwa kerangka kerja merekonstruksi partisipasi mengandung tiga dimensi yakni konteks, tujuan dan lingkungan. Selanjutnya dikaitkan dengan pembangunan madrasah, perlu adanya pengembangan partisipasi meliputi; 1) partisipasi dalam mengambil keputusan, 2) partisipasi pelaksanaan, 3) partisipasi memperoleh keuntungan, dan 4) partisipasi dalam mengevaluasi. Aktivitas tersebut terjadi secara sinergi melalui interaksi yang dinamis dan proporsional untuk mencapai kemajuan madrasah. Hal ini dibutuhkan karena akan berimplikasi terhadap tatanan dan hubungan baik vertikal maupun horisontal yang baku antara madrasah dengan instansi lain.

            Oleh sebab itu, pada prinsipnya komite madrasah mempunyai peran dan tugas yang berat pula. Karena ia harus; pertama, mampu mewadahi dan meningkatkan partisipasi para stakeholders pendidikan pada tingkat madrasah untuk turut serta merumuskan, menetapkan melaksanakan dan memonitoring pelaksanaan kebijakan madrasah dan pertanggungjawaban yang terfokus pada kualitas pelayanan peserta didik secara proporsional dan terbuka. Kedua, mewadahi partisipasi para stakeholders untuk turut serta dalam manajemen madrasah sesuai dengan peran dan fungsi, berkenaan dengan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program madrasah secara proporsional. Ketiga, mewadahi partisipasi baik individu maupun kelompok sukarela (volountir), pemerhati atau pakar pendidikan yang peduli kepada kualitas pendidikan, secara proporsional dan profesional selaras dengan kebutuhan madrasah. Keempat, menjembatani dan turut serta memasyarakatkan kebijakan madrasah kepada pihak-pihak yang mempunyai keterkaitan dan kewenangan dengan madrasah.

Peran Kepala Madrasah dalam Me-manage Madrasah

Faktor terpenting dalam kegiatan menggerakkan orang lain untuk menjalankan administrasi atau manajemen adalah kepemimpinan (leadership). Mengapa demikian? Sebab, kepemimpinanlah yang menentukan arah dan tujuan, memberikan bimbingan dan menciptakan iklim kerja yang mendukung pelaksanaan proses administrasi secara keseluruhan. Kesalahan dalam kepemimpinan dapat mengakibtakan gagalnya organisasi (lembaga) dalam menjalankan misinya (Burhanuddin, 1994).

Sebagai pemimpin di lingkungannya, kepala madrasah tidak hanya wajib melaksanakan tugas-tugas administratif tapi juga menyangkut tugas-tugas bagaimana harus mengatur seluruh program madrasah. Dia harus mampu memimpin dan mengarahkan aspek-aspek baik administratif maupun proses kependidikan di madrasahnya, sehingga madrasah yang dipimpinnya menjadi dinamis dan dialektis dalam usaha inovasi. Peranan kepemimpinannya di madrasah harus digerakkan sedemikian rupa sehingga pengaruhnya dapat dirasakan di kalangan staf dan pendidik-pendidik langsung atau tidak langsung. Oleh karenanya, perilakunya sebagai orang yang memegang kunci dalam perbaikan administrasi dan pengajaran harus mampu menggerakkan kegiatan-kegiatan dalam rangka inovasi di bidang metode pengakaran, teknik mengajar, dalam mencobakan ide-ide baru dan mencobakan praktek baru, serta dalam bentuk manajemen kelas yang lebih efektif dan sebagainya.( M. Arifin, 1995).

Lebih-lebih di era globalisasi ini, kemenangan ditentukan oleh mutu Sumber Daya Manusia (SDM). Mutu SDM itu sendiri ditentukan oleh pendidikan baik pada tingkat dasar, menengah maupun tinggi. Pendidikan memegang peranan kunci dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini sesuai dengan cita-cita dan sumpah dari founding fathers kita untuk membangun suatu masyarakat Indonesia yang kuat, demokratis, mandiri, menghayati nilai-nilai untuk bersatu dalam kebhinekaan, menguasai ilmu dan teknologi, dan mampu bersaing dalam era kehidupan domestik dan global.

Berangkat dari halt tersebut, sebagai pemimpin tunggal di madrasah, seorang kepala madrasah dituntut memiliki tanggung jawab untuk mengajar dan mempengaruhi semua yang terlibat dalam kegiatan pendidikan di madrasah, untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan madrasah.

Ukuran keberhasilan kepala madrasah dalam menjalankan tugasnya, adalah dengan mengukur kemampuannya di dalam menciptakan “iklim belajar mengajar”, dengan mempengaruhi, mengajak, dan mendorong pendidik, peserta didik dan staf lainnya untuk menjalankan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya. Terciptanya iklim belajar mengajar secara tertib, lancar dan efektif ini tidak terlepas dari kegiatan pengelolaan yang dilakukan oleh kepala madrasah dalam kapasitasnya sebagai administrator (baca: supervisor) dan pemimpin pendidikan di madrasah.(Nanang Fattah, 2004)

Hal ini, dilakukan dalam rangka untuk menciptakan iklim yang kondusif di sekolah, sehingga akan terwujud suatu perubahan dan pengembangan yang akhirnya akan mampu menghasilkan sekolah yang efektif dan produktif. Namun, harus diingat, bahwa upaya ini tidak akan berhasil dan tepat sasaran jika tidak ditunjang dengan pemahaman dan penerapan prinsip-prinsip peningkatan mutu, seperti; keterpaduan, sistem strategis untuk memenuhi kepuasan stakeholders (peran serta masyarakat dalam pendidikan), melibatkan administrator (supervisor) serta unsur-unsur sekolah lainnya dalam upaya peningkatan mutu secara berkelanjutan.

Peningkatan mutu berkelanjutan (continous quality improvement) merupakan suatu formula atau pendekatan yang diharapkan dapat mengatasi masalah rendahnya mutu pendidikan yang tidak hanya mengandalkan pendekatan yang bersifat konvensional, melainkan dibutuhkan suatu pendekatan dalam rangka optimalisasi sumber daya dan sumber dana. Hal ini dimaksudkan untuk mencapai sasaran secara efektif, efisien, kreatif dan inovatif yang berorientasi kepada peningkatan mutu pendidikan.

Mutu pendidikan adalah sebagai prioritas di dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan. Di dalam UU No. 25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional (Propernas) tahun 2000-2004, menyebutkan bahwa program peningkatan mutu telah menjadi prioritas kedua setelah peningkatan pemerataan kesempatan di semua jenjang pendidikan.

Upaya peningkatan mutu berkelanjutan, melibatkan semua personil madrasah, yang di dalam prosesnya menuntut komitmen bersama terhadap masalah mutu pendidikan di madrasah. Tumbuhnya komitmen di kalangan personil madrasah melalui peranan kepala madrasah sebagai pimpinan pendidikan. Adanya pemahaman dan komitmen yang kuat dari kepala madrasah merupakan unsur yang amat penting, bahkan Sellis mengemukakan adanya kegagalan pada proses penerapan teori peningkatan mutu utamanya disebabkan oleh kurangnya komitmen dari pemimpin (baca: kepala madrasah).

Peranan kepala madrasah selaku pimpinan dalam melaksanakan upaya peningkatan mutu berkelanjutan di madrasah, cenderung lebih banyak menggunakan waktu untuk kegiatan memimpin, merencanakan ide-ide baru dan bekerja lebih dekat dengan para guru maupun stafnya. Menurut Fakry Gaffar (Nanang Fattah, 2004), ada beberapa faktor kunci yang perlu diperoleh seorang manager; Pertama, pemahaman terhadap filosofi mutu. Kedua, visi tentang peningkatan mutu berkelanjutan. Ketiga, gaya kepemimpinan yang tepat untuk membudayakan mutu. Keempat, peran strategis sesuai dengan, lingkup, wewenang dan tanggung jawab. Kelima, empowering teacher atas dasar learner focus.

Penutup

Bertolak dari uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa untuk menyongsong masa depan pendidikan madrasah dalam kehidupan suatu bangsa diperlukan suatu manajemen yang handal dan tepat sasaran. Hal ini dapat ditempuh dengan cara pemanfaatan sumber daya manusia secara proporsional dan profesional yang ada dalam madrasah.

Oleh karenanya, komite dan kepala madrasah merupakan institusi yang berada dalam lingkungan madrasah harus mampu membenahi dan membawa madrasah untuk menyongsong masa depan pendidikan yang berkualitas. Keterlibatannya dapat direalisasikan melalui “kesadaran dan kepedulian melakukan aktivitas-aktivitas turut serta dalam mengambil keputusan, melaksanakan dan mengevaluasi keputusan dalam usaha program pendidikan di madrasah secara proporsional dan profesional yang dilandasi kesepakatan”.

Referensi

Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara, 1994

Bush, Tony dan Coleman, Marianne, Leadership and Stategic Management in Education, London, ASAGEP Publications Company, 2000

Effendi, AR., Hand Out Orientasi Manajemen Pendidikan, Program Studi Manajemen UNNES 2001

Fattah, Nanang, Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Dewan Sekolah, Bandung, Pustaka Bani Quraisy, 2004

Komarudin, Manajemen Berdasarkan Sasaran, Jakarta, Bumi Angkasa, 1990

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *