Permasalahan Emosional pada Anak Usia Taman Kanak – Kanak ( Anak Usia Dini )

Posted on

PERMASALAHAN EMOSIONAL PADA ANAK USIA TAMAN KANAK-KANAK ( Anak Usia Dini )

  • Kekurangan Afeksi

Afeksi dapat meliputi perasaan kasih sayang, rasa kehangatan, dan persahabatan yang ditunjukkan pada orang lain. Setiap orang mempunyai kebutuhan untuk memberi dan menerima afeksi. Saat yang paling penting dalam pemenuhan kebutuhan afeksi itu adalah pada masa kanak-kanak. Gangguan yang ditimbulkan akibat kurang afeksi, dapat berupa hal-hal berikut ini.

  1. Perkembangan fisik yang terlambat
  2. Gagap atau mengalami gangguan bicara
  3. Sulit konsentrasi dan mudah teralih perhatiannya
  4. Sulit mempelajari bagaimana membina hubungan dengan orang lain
  5. Mereka seringkali tampak agresif dan nakal.
  6. Kurangnya minat terhadap orang lain.
  7. Pada taraf berat dapat menyebabkan gangguan jiwa.
  • Anxiety (Cemas)

Anxieties atau cemas adalah rasa takut pada sesuatu tanpa sebab yang jelas, yang seringkali berlangsung lama. Biasanya rasa takut ini juga dibarengi oleh kegelisahan dan dugaan-dugaan akan terjadinya hal-hal buruk, seperti kematian, kecelakaan. Pada anak, rasa cemas biasanya terjadi saat ia berusia sekitar 3 tahun, bentuknya bisa berupa cemas kehilangan kasih sayang orang tua, cemas akan mengalami rasa sakit, cemas karena merasa berbeda dengan orang lain, atau mengalami kejadian yang tidak menyenangkan.

  • Hipersensitivitas

Hipersensitivitas adalah kepekaan emosional yang berlebihan dan cukup sering dijumpai pada anak-anak. Anak dikatakan hipersensitivite apabila ia mudah sekali merasa sakit hati dan menunjukkan respons yang berlebihan terhadap sikap dan perasaan orang lain. Anak yang hipersensitivite tidak bisa menerima penilaian, komentar, dan kritik orang lain tanpa rasa sakit hati.

Penyebab tumbuhnya sikap hipersensitivite di antaranya karena merasa kurang atau tidak sama dengan orang lain. Anak merasa dirinya tidak sepandai, semenarik dan sepopuler anak-anak lain.

Langkah yang dapat dilakukan orang tua ataupun para pendidik dalam menangani anak hipersensitif  di antaranya sebagai berikut.

  1. Menghindari sikap overprotective terhadap anak.
  2. Dalam proporsi yang wajar anak perlu diperkenalkan pada kritik.
  3. Orang tua dan para pendidik lainnya hendaknya mengajarkan anak untuk memandang dirinya secara proporsional.
  4. Orang tua dan guru sebaiknya mengajarkan ketrampilan untuk mengatasi masalah pada anak.
  • Fobia

Fobia adalah perasaan takut yang irasional terhadap objek yang sebenarnya tidak berbahaya atau tidak menyeramkan. Jadi, tidak ada sumber bahaya yang mengancam secara nyata. Fobia merupakan suatu gangguan psikologis yang perlu diatasi, terutama bila intensitasnya sangat sehingga mengganggu kelancaran kehidupan sehari-hari.

Fobia terdiri dari aspek emosi dan tingkah laku. Jadi, penderita fobia biasanya merasakan takut yang amat sangat terhadap suatu objek, kemudian menjerit, lalu berlari, mengunci diri di kamar, atau menampilkan tingkah laku ketakutan.

Penderita pun sadar kalau rasa takutnya tidak beralasan, namun ia tidak berdaya mengatasinya. Aspek ini dikenal sebagai tingkah laku compulsive.

Ada lima jenis fobia yang sering ditemui pada anak-anak.

  1. Fobia terhadap ruang terbuka (Agoraphobia)
  2. Fobia terhadap ruang tertutup (Claustrophobia)
  3. Fobia terhadap tempat yang tinggi (Acrophobia)
  4. Fobia terhadap tempat yang kotor dan infeksi akibat kuman (Mysophobia)
  5. Fobia terhadap suatu benda, misalnya karet gelang, binatang atau serangga (Photophobia)

 

FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA PERMASALAHAN EMOSI

Reynold (1987) mengemukakan beberapa faktor yang menyebabkan permasalahan emosi adalah sebagai berikut.

  1. Latar belakang keluarga yang kasar
  2. Perasaan menolak secara fisik ataupun emosional oleh pihak orang tua
  3. Orang dewasa yang belum dewasa dan memiliki kematangan yang cukup untuk melakukan pengasuhan anak
  4. Kehilangan terlalu dini untuk merasakan kedekatan dengan orang yang disayangi
  5. Orang tua yang tidak mampu mencintai anaknya
  6. Perasaan  cemburu yang berlebihan dan tidak ditangani dengan baik
  7. Situasi baru dimana anak belum siap dalam menghadapi dan tidak menemukan pasangan yang cocok untuk menemaninya
  8. Mendapatkan, gertakan, gangguan dan ketidakramahan dari anak yang lain
  9. Cacat fisik atau memiliki postur tubuh yang berbeda dengan anak lain

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *