Perkembangan Sosial pada Anak TK
Perkembangan Sosial pada Anak TK

PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL PADA ANAK USIA TAMAN KANAK-KANAK ( Part 2 )

Posted on

PERKEMBANGAN SOSIAL

  • PENGERTIAN

Menurut Plato secara potensial (fitrah) manusia dilahirkan sebagi makhluk sosial (zoon politicon). Syamsuddin (1995:105) mengungkapkan bahwa “sosialisasi adalah proses belajar untuk menjadi makhluk sosial”, sedangkan Loree (1970:86) “sosialisasi merupakan suatu proses dimana individu (terutama) anak melatih kepekaan dirinya terhadap rangsangan-rangsangan sosial terutama tekanan-tekanan dan tuntutan kehidupan (kelompoknya) serta belajar bergaul dengan bertingkah laku seperti orang lain di dalam lingkungan sosialnya”.

Muhibin (1999:35) mengatakan bahwa perkembangan sosial merupakan proses pembentukan social self (pribadi di dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya. Adapun Hurlock (1978:250) ,mengutarakan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. “sosialisasi adalah kemampuan bertingkah laku sesuai dengan norma, nilai atau harapan sosial”.

  • PROSES PERKEMBANGAN SOSIAL

Proses sosialisasi yang dikemukakan oleh Hurlock (1978) sebagai berikut:

  1. Belajar untuk bertingkah laku dengan cara yang dapat diterima masyarakat.
  2. Belajar memainkan peran sosial yang ada di masyarakat.
  3. Mengembangkan sikap/tingkah laku sosial terhadap individu lain dan aktivitas sosial yang ada di masyarakat.

Pada perkembangannya, berdasarkan ketiga tahap proses sosial ini, individu akan terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok individu sosial dan kelompok nonsosial. Kelompok individu sosial adalah mereka yang tingkah lakunya mencerminkan ketiga proses sosialisasi.

Adapun kelompok nonsosial, mereka adalah orang-orang yang tidak berhasil mencerminkan ketiga proses sosialisasi.

Selain kedua kelompok tadi, dalam perkembangann sosial ini adapula istilah individu yang introvert dan extrovert. Introvert adalah kecenderungan seseorang untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya. Sedangkan extrovert adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian ke luar dirinya sehingga segala minat, sikap dan keputusan-keputusan yang diambilnya lebih ditentukan oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar dirinya.

  • PENGEMBANGAN SOSIAL MELALUI TAHAPAN BERMAIN SOSIAL
  1. Sikap Sosial

Bermain mendorong anak untuk meninggalkan pola pikir egosentrisnya. Dalam situasi bermain anak ‘dipaksa’ untuk mempertimbangkan sudut pandang teman bermainnya sehingga ia menjadi kurang egosentris. Dalam permaianan, anak belajar bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.

  1. Belajar Berkomunikasi

Untuk dapat bermain dengan baik bersama orang lain, anak harus bisa mengerti dan dimengerti oleh teman-temannya. Hal ini mendorong anak untuk belajar bagaimana berkomunikasi dengan baik, bagaimana membentuk hubungan sosial, bagaimana menghadapi dan memecahkan masalah-masalah yang timbul dalam hubungan tersebut.

  1. Belajar mengorganisasi

Saat bermain bersama orang lain, anak juga berkesempatan belajar ‘berorganisasi’. Bagaimana ia harus melakukan pembagian ‘peran’ di antara mereka yang turut sert dalam permainan tersebut.

  1. Lebih Menghargai Orang Lain dan Perbedaan-perbedaan

Bermain memungkinkan anak  mengembangkan kemampuan empatinya saat bermain dalam sebuah peran.

  1. Menghargai Harmoni dan Kompromi

Saat dunianya semakin luas dan kesempatan berinteraksi semakin sering dan bervariasi maka akan tumbuh kesadarannya akan semakin peran sosial, persahabatan, perlunya menjalin hubungan serta perlunya strategi dan diplomasi dalam berhubungan dengan orang lain.

Patmonodewo (1995:86) menjelaskan lima tingkatan dalam bermain sosial, yaitu bermain solitaire, bermain sebagai penonton atau pengamat, bermain paralel, bermain asosiatif dan bermain kooperatif.

  1. Bermain solitaire

Anak-anak bermain dalam satu ruangn, mereka tidak saling menggangu dan tidak saling memperhatikan

  1. Bermain sebagai Penonton/Pengamat

Pada tahap ini anak-anak mulai peduli terhadap teman-temannya yang bermain di satu ruangan, sekaligus ia bermain sendirian. Selama anak bermain sebagi penonton ia terlihat pasif. Padahal, ia sangat memperhatikan dan mengamati teman-temannya, apa yang sedang dimainkan dan bagaimana hasilnya.

  1. Bermain Paralel

Beberapa anak bermain bersama dengan mainan yang sama dalam satu ruangan. Namun, apa yang dilakukan masing-masing anak tidak saling tergantung dan berhubungan. Jika ada seorang anak yang meninggalkan arena, permainan anak-anak lain masih tetap dapat berjalan.

  1. Bermain asosiatif

Adalah peramainan yang melibatkan beberapa orang anak, namun belum terorganisasi. Masing-masing anak tidak mendapatkan peran yang spesefik sehingga jika ada anak yang tidak mengikuti aturan, permainan tetap dapat berlangsung.

  1. Bermain Kooperatif

Bermain kooperatif dilakukan secara berkelompok, masing-masing anak memiliki peran untuk mencapai tujuan permainan. Misalnya, menirukan kegiatan di pasar, dimana ada anak yang berperan sebagai penjual dan adapula anak yang berperan sebagai pembeli.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *