Peran Sosiologi

Peran Sosiologi dalam menghantarkan kepada Stupa Ilahiyyah

Posted on

Ibnu Khaldun dalam bukunya (kitabnya) sebagai tokoh sosiologi dalam perspekif (di kalangan Islam) yang spektakuler yang tebalnya 846 halaman pada bagian BAB ENAM yaitu tentang Berbagai macam ilmu pengetahuan, metode-metode pengajarannya, serta kondisi yang terjadi sehubungan dengan hal itu.

bagian tulisan ini yang menjadi blue print adalah kesanggupan manusia untuk berpikir dan menggunakan pikirannya. Dan melalui kesanggupan berpikir itulah, Tuhan menganugerahi manusia keunggulan di atas makhluk-makhluk Nya yang lain.

Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah pada tataran fenomenologi yang ada adalah manusia jarang sekali menggunakan alat untuk berpikir (akal) tersebut sebagaimana mestinya, sebagaimana kodratnya yang telah diberikan bahkan diamanatkan oleh Yang Maha Transendal tersebut. tetapi yang terjadi justru malah idrak yaitu kesadaran dalam diri tentang hal yang terjadi di luar dirinya. Padahal kesadaran semacam ini yang layak memilikinya hanyalah binatang saja yang diperoleh melalui indera pendengaran, penglihatan, penciuman, perasa lewat kecapan lidah dan melalui sentuhan. walaupun tidak dipungkiri bahwa manusia juga mampu melakukan apa yang dimiliki oleh hewan dalam merasakan kesadaran tersebut.  sebagaimana yang telah diterangkan Allah dalam firman-Nya (Q.S. Al Mulk: 23) yang artinya: ” Dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan akal”. akal pikiran inilah yang membantu manusia untuk mewujudkan dirinya sebagai manusia sejati bukan bashar.

Dengan akal maka manusia akan mampu berpikir (fikr) yaitu penjamahan bayang-bayang di balik perasaan yang mana aplikasinya untuk membuat analisa dan sintesa (atau tesis, sintesis, antitesis). Dan dengan akal inilah manusia akan mampu terlengkapi keberadaannya melalui ide-ide dan perilaku yang dibutuhkan dalam interaksi sosial walaupun bentuknya adalah appersepsi-appersepsi yang dicapai melalui pengalaman, hingga benar-benar dirasakan manfaatnya dan pada endhingya akan memahami segala resiko jika melanggar aturan, diktum-diktum yang ada (generalized others).

Jika hal tersebut maka manusia akan mampu mencapai “stupa illahiyyah” yang mampu memahami keberadaan Sang Maha Transendental baik dalam kesejatian diri maupun dalam realitas sosialnya (al haqiqah al insaniyyah) bukan hanya pada tataran konsep (an sich) apalagi pada tataran konseptual.

Berkiblat dari hal tersebut di atas, maka peran sosiologi sangat berkelinden dengan penggalan tulisan Ibnu Khaldun untuk mewujudkan manusia sebagai agent of change dalam arti yang sebenarnya. Hal ini bisa terwujud jika dalam melakukan proses pembelajaran mampu memilah, memilih metode pembelajaran yang jitu, strategi yang teruji, dan pendekatan yang komprehensif dan harus konstruktivisme.[Bukankah demikian?]

Writed by : Nurhadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *