peran guru dalam memahami siswa
peran guru dalam memahami siswa

Peran Guru dalam Memahami Siswa sebagai Dasar Pembelajaran

Posted on

Peran Guru dalam Memahami Siswa sebagai Dasar Pembelajaran

Perkembangan sering dibedakan dari pertumbuhan. Pertumbuhan biasanya lebih merujuk kepada perubahan aspek fisik ( biologis ).Perkembangan merujuk kepada perubahan yang sistematis yang terjadi sepanjang siklus kehidupan manusia. Kata Sistematis dalam pengertian perkembangan mengandung implikasi bahwa perubahan yang bersifat perkembangan adalah perubahan yang beraturan atau terpola megikuti tahap atau sekuensi tertentu. Perkembangan adalah Proses yang kompleks karena perkembangan merupakan hasil dari berbagai proses biologis, kognitif, sosial, moral.

Dalam pandangan lama, Para Ahli membagi konsentrasi studi tentang perkembangan anak ke dalam :

  1. Pertumbuhan dan Perkembangan Fisik yan mencakup perubahan badaniah dan ketrampilan motorik;
  2. Perkembangan aspek kognitif yang mencakup persepsi, bahasa, belajar dan berpikir;
  3. Perkembangan Psikososial yang mencakup perkembangan emosi, kepribadian, dan hubungan antar pribadi.

Dalam Pandangan Mutakhir pembagian konsentrasi itu tidak tepat dan artifisial ( dibuat-buat ). Karena bagaimanapun juga perkembangan dalam aspek satu akan mempengaruhi aspek yang lainnya.Pnadangan Mutakhir ini disebut Pandangan Holistis yang melihat manusia sebagai makhluk biologis, kognitif, sosial, dan makhluk Tuhan dimana perubahan dalam satu aspek akan bergantung kepada dan mempengaruhi perubahan / perkembangan aspek lain.

Perspektif Holistis merupakan keterpaduan pandangan tentang proses perkembangan yang menekankan pentingnya interaksi antara perkembangan fisik, mental, sosial, emosi, dan moral.

Perkembangan dapat dilihat tidak hanya sebagai hasil Interkasi proses biologis, kognitif, dan sosial melainkan juga sebagai hasil interaksi kematanan dan pengalaman. Kematangan merujuk kepada perubahan yang terjadi sebagai hasil pertumbuhan fisik atau perubahan biologis daripada sebagai hasil pengalaman.

Kemampuan untuk belajar berjalan, berbicara dan buang air merupakan perkembangan karena hasil kematangan.

Perilaku yang dihasilkan karena kematangan disebut perilaku PILOGENETIK

Perilaku yang diperoleh karena pengalaman ini disebut perilaku OTOGENETIK

Kombinasi antara faktor kematangan dan pengalaman akan menghasilkan kesepakatan belajar.

ASPEK – ASPEK PERKEMBANGAN ANAK SEKOLAH DASAR

  1. Perkembangan Motorik dan Persepsi,
  2. Implikasi bagi proses Pembelajaran
  • Perkembangan Motorik dan Persepsi

Pertumbuhan fisik paling pesat terjadi pada masa prasekolah yan terutama tampak dalam perubahan perubahan ukuran, tinggi, berat, dan gerak-gerak motorik kasar. Sedangkan gerak/ketrampilan motorik halus tumbuh pesat pada usia sekolah dasar.

Pada masa sekolah dasar perkembangan motorik anak menjadi lebih terkoordinasi dan pada masa ini anak menjadi lebih siap mempelajari berbagai ketrampilan lainnya. Dalam ketrampilan motorik kasar anak laki-laki biasanya lebih unggul daripada wanita, sebaliknya dalam ketrampilan motorik halus anak wanita lebih unggul dari laki-laki.

Pada usia sekolah dasar perkembangan fisik harus  merupakan kepedulian guru. Pada usia sekolah dasar perkembangan fisik akan erat kaitannya dengan perkembangan intelektual atau kognitif. Reaksi-reaksi fisik sering kali menunjukkan dinamika intelektual peserta didik. Tetapi dipihak lain sering kali peserta didik tidak peduli terhadap perkembangan fisik dan kesehatan dirinya.

  • Implikasi bagi Proses Pembelajaran

Ada beberapa implikasi dari perkembangan motorik dan persepsi anak terhadap proses pembelajaran.

  1. Perkembangan motorik, terutama pada tahap awal, terkait erat dengan perkembangan pengenalan anak terhadap dunianya. Implikasi bagi pembelajaran ialah bahwa bahan ajar dan proses pembelajaran di sekolah dasar harus terpadu dengan seluruh aspek perkembangan anak.
  2. Faktor pertumbuhanotak dimana kedua belahan otak ( kiri dan kanan ) perlu dikembangkan dalam proses pendidikan. Proses belajar di sekolah dasar tidak hanya terfokus pada pengembangan kemampuan memori, logis, berpikir detail, tetapi juga menyangkut pengembangan ekspresi dan berpikir kreatif.
  3. Faktor kemampuan konsentrasi dan daya selektivitas anak terhadap objek pengamatan membawa implikasi kepada perancangan dan pengorganisasian bahan belajar, dan penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *