PENGEMBANGAN TEORI KOGNITIF JEAN PIAGET DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN

Posted on

PENGEMBANGAN TEORI KOGNITIF JEAN PIAGET DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN

A. Latar Belakang Ada beberapa ahli yang belum puas terhadap penemuan ahli sebelumnya tentang belajar sebagai hubungan stimulus-response-reinforcement. Para ahli berpendapat bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh reward dan reinforcement. Begitu juga dengan pendapat aliran kognifitas bahwa tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku terjadi atau dengan kata lain, ketika belajar seseorang memperoleh insight untuk pemecahan masalah. Teori ini lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri dengan melibatkan proses belajar yang sangat kompleks. Teori ini dikembangkan terutama ditujukan untuk membantu pendidik dalam memahami orang lain, terutama dalam memahami peserta didik. Langkah yang dilakukan dengan cara mengkontruksikan prinsip-prinsip belajar secara ilmiah selama proses pembelajaran di kelas terutama terkait dengan prosedur untuk mendapatkan hasil yang paling produktif. Artinya, bahwa teori belajar kognitif ini menjelaskan tentang bagaimana seseorang mencapai pemahaman atas dirinya dan lingkungannya dalam mencapai tujuan yang dilatarbelakangi oleh perilaku dan cita-cita. Selama ini dalam pendidkan anak Usia Dini jalur formal (Taman Kanak-kanak) ada beberapa model teori kognitif yang paling berpengaruh di dunia pendidikan, yaitu: teori belajar Gestalt, teori belajar Cognitive-Field dari Lewin, dan teori perkembangan intelektual Jean Piaget. Masing-masing teori dan model tersebut mempunyai dasar pemikiran dan pandangan yang berbeda mengenai hakikat belajar dan bagaiman seharusnya pembelajaran dilaksanakan. Mengapa teori perkembangan kognitif ini penting untuk dibahas atau menjadi perhatian di dunia pendidikan? Karena, perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam perkembangan peserta didik yang sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam sekolah yang mana hal ini harus dikuasai baik oleh pendidik maupun tenaga kependidikan dan atau stakeholders yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung. Piaget berpandangan bahwa anak dapat berkembang daya pikirnya dengan cara memfungsikan daya imajinasinya dan penuh dengan khayalan. Dari khayalan dan imajinasinya itu anak dapat menjelaskan pengetahuannya. Dengan memanfaat perkembangan ini maka anak harus dirangsang untuk dapat menyampaikan hasil imajinasinya dan khayalannya itu secara maksimal sehingga dapat ditemukan hasil sebuah imajinasi yang inovatif. Berangkat dari hal tersebut di atas, maka begitu sangat pentingnya pengembangan kognitif bagi setiap orang dalam rangka untuk menemukan jati dirinya yang mana dapat dilakukan sejak dini (usia pra sekolah). Oleh karena itu, makalah ini mencoba untuk membahasnya dengan mengambil judul “Pengembangan Teori Kognitif Jean Piaget dan Implementasinya Dalam Pendidikan”.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan deskripsi singkat di atas, maka rumusan masalah yang menjadi bidikan dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Apa yang dimaksud dengan perkembangan kognitif? 2. Bagaimana teori perkembangan kognitif menurut Jean Piaget? 3. Bagaimana tahap-tahap teori perkembangan kognitif menurut Jean Piaget? 4. Bagaimana implementasi teori perkembangan kognitif menurut Jean Piaget dalam pendidikan?

C. Tujuan Berangkat dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui definisi tentang perkembangan kognitif; 2. Untuk mengetahui teori perkembangan kognitif menurut Jean Piaget; 3. Untuk mengetahui tahap-tahap teori perkembangan kognitif menurut Jean Piaget; dan 4. Untuk mengetahui implementasi teori perkembangan kognitif menurut Jean Piaget dalam pendidikan.

D. Pembahasan Masalah Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme (aliran yang menekan pada kebebasan berpikir seseorang) yang dikenal pula sebagai psikology development. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Piaget memandang bahwa proses berfikir sebagai aktivitas gradual (pokok) dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Proses belajar sebenaranya terdiri dari tiga tahapan, yakni asimilasi, akomodasi, equilibrasi (penyeimbangan) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa. Kemudian akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru dan equilibrasi (penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi). • Definisi Tentang Teori Perkembangan Kognitif Kognitif adalah salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal). Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu, kognitif berbeda dengan teori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada dirinya. Serupa dengan aspek-aspek perkembangan yang lainnya, kemampuan kognitif anak juga mengalami perkembangan tahap demi tahap. Secara sederhana, pada buku karangan (Desmita, 2009) dijelaskan kemampuan kognitif dapat dipahami sebagai kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah. Dengan berkembangnya kemampuan kognitif ini akan memudahkan peserta didik menguasai pengetahuan umum yang lebih luas, sehingga anak mampu melanjutkan fungsinya dengan wajar dalam interaksinya dengan masyarakat dan lingkungan. Sehingga dapat dipahami bahwa perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan peserta didik yang berkaitan dengan pengetahuan, yaitu semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya, sesuai buku karangan (Desmita, 2009). Jean Piaget memberikan batasan bahwa perkembangan kognitif mampu menumbuhkan kecerdasan, pengetahuan dan hubungan anak didik dengan lingkungannya. Kecerdasan merupakan proses yang berkesinambungan yang membentuk struktur yang diperlukan dalam interaksi terus menerus dengan lingkungan. Struktur yang dibentuk oleh kecerdasan, pengetahuan sangat subjektif waktu masih bayi dan masa kanak-kanak awal dan menjadi objektif dalam masa dewasa awal. Perkembangan cara berfikir yang berlainan dari masa bayi sampai usia dewasa meliputi tindakan dari bayi, pra operasi, operasi kongkrit dan opersai formal. Proses dibentuknya setiap struktur yang lebih kompleks ini adalah asimilasi dan akomodasi, yang diatur oleh ekuilibrasi. Piaget juga memberikan proses pembentukan pengetahuan dari pandangan yang lain, ia menguraikan pengalaman fisik atau pengetahuan eksogen, yang merupakan abstraksi dari ciri-ciri dari obyek, pengalaman logis matematis atau pengetahuan endogen disusun melalui reorganisasi proses pemikiran anak didik. Sruktur tindakan, operasi kongkrit dan operasai formal dibangun dengan jalan logis-matematis. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa kognitif atau pemikiran adalah istilah yang digunakan oleh ahli psikologi untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai dan memikirkan lingkungannya (Desmita, 2009). • Teori Perkembangan Kognitif Menurut Jean Piaget Teori perkembangan kognitif Piaget adalah salah satu teori yang menjelasakan bagaimana anak beradaptasi dengan dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian sekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek-objek seperti mainan, perabot, dan makanan serta objek-objek sosial seperti diri, orangtua dan teman. Bagaimana cara anak mengelompokan objek-objek untuk mengetahui persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya, untuk memahami penyebab terjadinya perubahan dalam objek-objek dan perisiwa-peristiwa dan untuk membentuk perkiraan tentang objek dan peristiwa tersebut. Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif dalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas. Anak tidak pasif menerima informasi. Walaupun proses berfikir dalam konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasi oleh pengalaman dengan dunia sekitarnya, namun anak juga berperan aktif dalam menginterpretasikan informasi yang ia peroleh melalui pengalaman, serta dalam mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi mengenai dunia yang telah ia punya. Piaget percaya bahawa pemikiran anak-anak berkembang menurut tahap-tahap atau priode-periode yang terus bertambah kompleks. Menurut teori tahapan Piaget, setiap individu akan melewati serangkaian perubahan kualitatif yang bersifat invariant, selalu tetap, tidak melompat atau mundur. Perubahan kualitatif ini terjadi karena tekanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkunagn serta adanya pengorganisasian struktur berfikir. Sebagai seorang yang memperoleh pendidikan dasar dalam bidang eksakta, yaitu biologis, maka pendekatan dan uraian dari teorinya terpengaruh aspek biologi. Teori Piaget merupakan akar revolusi kognitif saat ini yang menekankan pada proses mental. Piaget mengambil perspektif organismik, yang memandang perkembangan kognitif sebagai produk usaha anak untuk memahami dan bertindak dalam dunia mereka. Menurut Piaget, bahwa perkembangan kognitif dimulai dengan kemampuan bawaan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Dengan kemampuan bawaan yang bersifat biologis itu, Piaget mengamati bayi-bayi mewarisi reflek-reflek seperti reflek menghisap. Reflek ini sangat penting dalam bulan-bulan pertama kehidupan mereka, namun semakin berkurang signifikansinya pada perkembangan selanjutnya. Lebih lanjut Piaget mengatakan bahwa perkembangan kognitif terjadi melalui 3 (tiga) proses yang saling berhubungan, yaitu:

1. Organisasi Proses ini untuk mengintegrasikan pengetahuan ke dalam sistem-sistem. Artinya, bahwa organisasi adalah sistem pengetahuan atau cara berfikir yang disertai dengan pencitraan realitas yang semakin akurat. Contoh: anak laki-laki yang baru berumur 4 bulan mampu untuk menatap dan menggenggam objek. Setelah itu dia berusaha mengkombunasikan dua kegiatan ini (menatap dan menggenggam) dengan menggenggam objek-objek yang dilihatnya. Dalam sistem kognitif, organisasi memiliki kecenderungan untuk membuat struktur kognitif menjadi semakin komplek. Struktur-struktur kognitif disebut skema. Skema adalah pola prilaku terorganisir yang digunakan seseorang untuk memikirkan dan melakukan tindakan dalam situasi tertentu. Contoh: gerakan reflek menyedot pada bayi yaitu gerakan otot pada pipi dan bibir yang menimbulkan gerakan menarik.

2. Adaptasi. Merupakan cara anak untuk memperlakukan informasi baru dengan mempertimbangkan apa yang telah mereka ketahui. Adaptasi ini dilakukan dengan 2 (dua) langkah, yaitu: a. Asimilasi Istilah ini merujuk pada peleburan informasi baru ke dalam struktur kognitif yang sudah ada. Seorang individu dikatakan melakukan proses adaptasi melalui asimilasi, jika individu tersebut menggabungkan informasi baru yang diterima peserta didik ke dalam pengetahuan peserta didik yang telah ada. Contoh asimilasi kognitif: peserta didik yang diperlihatkan segi tiga sama sisi, kemudian setelah itu diperlihatkan segitiga yang lain yaitu siku-siku. Asimilasi terjadi jika peserta didik menjawab bahwa segitiga siku-siku yang diperlihatkan adalah segitiga sama sisi. b. Akomodasi Istilah yang digunakan Piaget untuk merujuk pada perubahan yang terjadi pada sebuah struktur kognitif dalam rangka menampung informasi baru. Jadi, dikatakan akomodasi jika individu menyesuaikan diri dengan informasi baru. Melalui akomodasi ini, struktur kognitif yang sudah ada dalam diri peserta didik mengalami perubahan sesuai dengan rangsangan-rangsangan dari objeknya. Contoh: peserta didik bisa menjawab segitiga siku-siku pada segitiga yang diperlihatkan kedua.

3. Ekuilibrasi Istilah pada kecenderungan untuk mencari keseimbangan pada elemen-elemen kognisi. Ekuilibrasi diartikan sebagai kemampuan yang mengatur dalam diri individu agar mampu mempertahankan keseimbangan dan menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Agar terjadi ekuilibrasi antara diri dengan lingkungan, maka peristiwa asimilasi dan akomodasi harus terjadi secara terpadu, bersama-sama dan komplementer. Contoh: bayi yang biasanya mendapat susu dari payudara ibu ataupun botol, kemudian diberi susu dengan gelas tertutup (untuk latihan minum dari gelas). Ketika bayi menemukan bahwa menyedot air gelas membutuhkan gerakan mulut dan lidah yang berbeda dari yang biasa dilakukannya saat menyusu dari ibunya, maka si bayi akan mengakomodasi hal itu dengan akomodasi skema lama. Dengan melakukan hal itu, maka si bayi telah melakukan adaptasi terhadap skema menghisap yang ia miliki dalam situasi baru yaitu gelas. Dengan demikian asimilasi dan akomodasi bekerjasama untuk menghasilkan ekuilibrium dan pertumbuhan. Lebih lanjut Jean Piaget menjelaskan bahwa perkembangan kognitif usia 11-15 tahun atau 11 dan seterusnya, merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations). Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka. Perkembangan kognitif remaja mencapai tahap operasional formal yang memungkinkan remaja berpikir secara abstrak dan komplek, sehingga remaja mampu mengambil keputusan untuk dirinya. Selama masa remaja, kemampuan untuk mengerti masalah-masalah kompleks berkembang secara bertahap. Masa remaja adalah awal dari tahap pikiran formal operasional, yang mungkin dapat dicirikan sebagai pemikiran yang melibatkan logika pengurangan atau deduksi. Tahap ini terjadi di semua orang tanpa memandang pendidikan dan pengalaman mereka. Namun, bukti riset tidak mendukung hipotesis itu yang menunjukkan bahwa kemampuan remaja untuk menyelesaikan masalah kompleks adalah fungsi dari proses belajar dan pendidikan yang terkumpul. Unsur yang terpenting dalam mengembangkan pemikiran seseorang adalah latihan dan pengalaman. Latihan berpikir, merumuskan masalah dan memecahkannya, serta mengambil kesimpulan akan membantu seseorang untuk mengembangkan pemikirannya ataupun intelegensinya. Piaget membedakan dua macam pengalaman, yaitu sebagai berikut: a. Pengalaman fisis: terdiri dari tindakan atau aksi seseorang terhadap objek yang di hadapi untuk mengabstraksi sifat-sifatnya; dan b. Pengalaman matematis-logis: terdiri dari tindakan terhadap objek untuk mempelajari akibat tindakan-tindakan terhadap objek tersebut. Lebih lanjut Jean Piaget menjelaskan bahwa pada masa operasional formal seseorang mempunyai beberapa kemampuan, yaitu sebagai berikut: a. Abstrak Remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi tetapi mampu memunculkan kemungkinan-kemungkinan hipotesis atau dalil-dalil dan penalaran yang benar-benar abstrak. b. Fleksibel dan kompleks Remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Mulai berpikir tentang ciri-ciri ideal bagi diri sendiri, orang lain, dan dunia, serta membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan standard-standard ideal lainnya. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya. c. Logis Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001). Mulai mampu mengembangkan hipotesis atau dugaan terbaik akan jalan keluar suatu masalah, menyusun rencana-rencana untuk memecahkan masalah-masalah dan menguji pemecahan-pemecahan masalah secara sistematis. • Tahap-tahap Teori Perkembangan Kognitif Menurut Jean Piaget Menurut Piaget bahwa ada 4 (empat) faktor yang mempengaruhi transisi tahap perkembangan anak, yaitu: kematangan, pengalaman fisik atau lingkungan, transmisi sosial, dan self regualation. Piaget menjelaskan bahwa pikiran anak-anak dibentuk bukan oleh ajaran orang dewasa atau pengaruh lingkungan lainnya. Anak-anak memang harus berinteraksi dengan lingkungan untuk berkembang, namun merekalah yang membangun struktur-struktur kognitif baru dalam dirinya. Piaget juga yakin bahwa individu melalui empat tahap dalam memahami dunia. Masing-masing tahap terkait dengan usia dan terdiri dari cara berfikir yang khas/berbeda. Adapun tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget adalah sebagai berikut: 1. Tahap Sensori Motor Tahap ini merupakan tahap pertama. Tahap ini dimulai sejak lahir sampai usia 2 tahun. Pada tahap ini, bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia dengan mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensor (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan-tindakan fisik. Dengan berfungsinya alat-alat indera serta kemampuan kemampuan-kemampuan melakukan gerak motorik dalam bentuk refleks ini, maka seorang bayi berada dalam keadaan siap untuk mengadakan hubungan dengan dunianya. Piaget membagi tahap sensori motor ini kedalam 6 periode, yaitu: Periode 1: Penggunaan Refleks-Refleks (Usia 0-1 bulan). Refleks yang paling jelas pada periode ini adalah refleks menghisap (bayi otomatis menghisap kapanpun bibir mereka disentuh) dan refleks mengarahkan kepala pada sumber rangsangan secara lebih tepat dan terarah. Misalnya jika pipi kanannya disentuh, maka ia akan menggerakkan kepala kearah kanan. Periode 2: Reaksi Sirkuler Primer (Usia 1-4 bulan) Reaksi ini terjadi ketika bayi menghadapi sebuah pengalaman baru dan berusaha mengulanginya. Contoh: menghisap jempol. Pada contoh menghisap jempol, bayi mulai mengkoordinasikan 1). Gerakan motorik dari tangannya dan 2). Penggunaan fungsi penglihatan untuk melihat jempol. Periode 3: Reaksi Sirkuler sekunder (Usia 4-10 bulan) Reaksi sirkuler primer terjadi karena melibatkan koordinasi bagian-bagian tubuh bayi sendiri, sedangkan reaksi sirkuler sekunder terjadi ketika bayi menemukan dan menghasilkan kembali peristiwa menarik diluar dirinya. Periode 4: Koordinasi skema-skema skunder (Usia 10-12 bulan) Pada periode ini bayi belajar untuk mengkoordinasikan dua skema terpisah untuk mendapatkan hasil. Contoh: suatu hari Laurent (anak Piaget) ingin memeluk kotak mainan, namun Piaget menaruh tangannya ditengah jalan. Periode 5: Reaksi Sirkuler Tersier (Usia 12-18 bulan) Pada periode 4, bayi memisahkan dua tindakan untuk mencapai satu hasil tunggal. Pada periode 5 ini bayi bereksperimen dengan tindakan-tindakan yang berbeda untuk mengamati hasil yang berbeda-beda. Contoh: Suatu hari Laurent tertarik dengan meja yang baru dibeli Piaget. Dia memukulnya dengan telapak tangannya beberapa kali. Kadang keras dan kadang lembut untuk mendengarkan perbedaan bunyi yang dihasilkan oleh tindakannya. Periode 6: Permulaan Berfikir (Usia 18-24 bulan) Pada periode 5 semua temuan-temuan bayi terjadi lewat tindakan fisik, pada periode 6 bayi kelihatannya mulai memikirkan situasi secara lebih internal sebelum pada akhirnya bertindak. Jadi, pada periode ini anak mulai bisa berfikir.dalam mencapai lingkungan, pada periode ini anak sudah mulai dapat menentukan cara-cara baru yang tidak hanya berdasarkan rabaan fisis dan internal, tetapi juga dengan koordinasi internal dalam gambaran atau pemikirannya. 2. Tahap Pemikiran Pra-Operasional Tahap ini berada pada rentang usia antara 2-7 tahun. Pada tahap ini anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar atau simbol. Menurut Piaget, walaupun anak-anak pra sekolah dapat secara simbolis melukiskan dunia, namun mereka masih belum mampu untuk melaksanakan “ Operation (operasi) ”, yaitu tindakan mental yang diinternalisasikan yang memungkinkan anak-anak melakukan secara mental yang sebelumnya dilakukan secara fisik. Perbedaan tahap ini dengan tahap sebelumnya adalah “ kemampuan anak mempergunakan simbol”. Penggunaan simbol bagi anak pada tahap ini tampak dalam lima gejala berikut: Imitasi tidak langsung Anak mulai dapat menggambarkan sesuatu hal yang dialami atau dilihat, yang sekarang bendanya sudah tidak ada lagi. Jadi pemikiran anak sudah tidak dibatasi waktu sekarang dan tidak pula dibatasi oleh tindakan-tindakan indrawi sekarang. Contoh: anak dapat bermain kue-kuean sendiri atau bermain pasar-pasaran. Ini adalah hasil imitasi. Permainan Simbolis Sifat permainan simbolis ini juga imitatif, yaitu anak mencoba meniru kejadian yang pernah dialami. Contoh: anak perempuan yang bermain dengan bonekanya, seakan-akan bonekanya adalah adiknya. Menggambar Pada tahap ini merupakan jembatan antara permainan simbolis dengan gambaran mental. Unsur pada permainan simbolis terletak pada segi “kesenangan” pada diri anak yang sedang menggambar. Sedangkan unsur gambaran mentalnya terletak pada “usaha anak untuk memulai meniru sesuatu yang riel”.Contoh: anak mulai menggambar sesuatu dengan pensil atau alat tulis lainnya. Gambaran Mental Merupakan penggambaran secara pikiran suatu objek atau pengalaman yang lampau. Gambaran mental anak pada tahap ini kebanyakan statis. Anak masih mempunyai kesalahan yang sistematis dalam mengambarkan kembali gerakan atau transformasi yang ia amati. Contoh yang digunakan Piaget adalah deretan lima kelereng putih dan hitam. Bahasa Ucapan Anak menggunakan suara atau bahasa sebagai representasi benda atau kejadian. Melalui bahasa anak dapat berkomunikasi dengan orang lain tentang peristiwa kepada orang lain. 3. Tahap Operasi berfikir Kongkret Tahap ini berada pada rentang usia 7-11 tahun.tahap ini dicirikan dengan perkembangan system pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan yang logis. Anak sudah mengembangkan operasi logis. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah: Pengurutan Yaitu kemampuan untuk mengurutkan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil. Klasifikasi Kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan). Decentering Anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap gelas lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding gelas kecil yang tinggi. Reversibility Anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya. Konservasi Memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi gelas yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi gelas lain. Penghilangan sifat Egosentrisme Kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, Lala menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Baim memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Lala kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Lala akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Baim. 4. Tahap Operasi berfikir Formal Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia 11 tahun dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit. Pada tahap ini, remaja telah memiliki kemampuan untuk berpikir sistematis, yaitu bisa memikirkan semua kemungkinan untuk memecahkan suatu persoalan. Contoh: ketika suatu saat mobil yang ditumpanginya mogok, maka jika penumpangnya adalah seorang anak yang masih dalam tahap operasi berpikir kongkret, ia akan berkesimpulan bahwa bensinnya habis. Ia hanya menghubungkan sebab akibat dari satu rangkaian saja. Sebaliknya pada remaja yang berada pada tahap berfikir formal, ia akan memikirkan beberapa kemungkinan yang menyebabkan mobil itu mogok. Bisa jadi karena businya mati, atau karena platinanya, dan sebagainya. Seorang remaja pada tahap ini sudah mempunyai ekuilibrum yang tinggi, sehingga ia dapat bepikir fleksibel dan efektif, serta mampu berhadapan dengan persoalan yang kompleks. Remaja dapat berfikir fleksibel karena dapat melihat semua unsur dan kemungkinan yang ada. Dan remaja dapat berfikir efektif karena dapat melihat pemikiran mana yang cocok untuk persoalan yang dihadapi. Tahapan perkembangan kognitif ini dapat dilihat dalam tabel berikut: Tahap Perkembangan Kognitif Anak No Tingkat Perkembangan Usia (tahun) Keterangan 1 2 3 4 1 Sensory motor/ sensori motor 0-2 Pertumbuhan kognitif didasarkan pada tindakan panca indra dan motorik. Tindakannya terutama berbentuk reaksi refleks, dapat meniru tindakan orang lain yang telah lalu dan merancang arti baru dari pemecahan persoalan dengan menggabungkan yang didapat sebelumnya dengan pengetahuan. Dalam periode singkat 2 tahun anak itu telah mengubah dirinya dari organism yang sama sekali tergantung pada sifat refleks bawaan menjadi orang yang mampu berpikir secara simbolik. 2 Pre operational/ preoperational 2-7 Meniru yang tertunda (menghasilkan suatu tindakan yang telah dilihat di masa lalu) dalam imajinasi anak-anak sudah mampu menggunakan tanggapan simbolik. Namun pada tahap ini, anak-anak masih memiliki keterbatasan berpikir dalam beberapa hal penting, periode ini ditandai oleh adanya egosentris serta memungkinkan anak untuk mengembangkan imitation, insight learning dan kemampuan berbahasa, dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek. 3 Concrete operational/ operasi konkret 7-11 Anak-anak telah dapat mengetahui symbol-simbol matematis tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak. Anak mulai berkurang egocentrisme-nya dan mulai membentuk peer-group. Keberhasilan belajar yang disesuaikan tahap perkembangan kognitif peserta didik menurut Piaget dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik; 2. Pendidik hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan; 3. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu, pendidik dalam melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak; 4. Peserta didik akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik; 5. Bahan yang harus dipelajari peserta didik hendaknya dirasakan baru tetapi tidak; 6. Berikan peluang agar peserta didik belajar sesuai tahap perkembangannya. 7. Selama pembelajaran di dalam kelas, peserta didik hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temannya. • Implementasi Teori Perkembangan Kognitif Menurut Jean Piaget Dalam Pendidikan. Terapan dari jenjang kognisi Piaget ditafsirkan sebagai suatu rentangan dari senso-motorik sampai operasi formal diatas yang kuantitatif dan dapat muncul sekaligus di suatu usia, sedangkan kualitatif akan menigkat bersama bertambahnya usia. Sebagian besar psikolog terutama ahli psikologi kognitif berkeyakinan bahwa proses perkembangan kognitif manusia mulai berlangsung sejak ia baru lahir. Secara umum, semakin tinggi tingkat kognitif seseorang semakin teratur (dan juga semakin abstrak) cara berfikirnya. Dalam kaitan ini, maka seorang pendidik sebaiknya memahami tahap-tahap perkembangan refleks ini serta memberikan materi belajar dalam jumlah dan jenis yang sesuai dengan tahap-tahap tersebut. Pendidik yang mengajar namun tidak memperhatikan tahap-tahap perkembangan di atas akan cenderung menyulitkan para refleks. Implementasi yang dapat diambil dari teori perkembangan kognitif Jean Piaget di atas adalah bahwa dari aspek tenaga pendidik misalnya. Seorang guru diharuskan memiliki kompetensi bidang kognitif. Artinya seorang guru harus memiliki kemampuan intelektual, seperti penguasaan materi pelajaran, pengetahuan mengenai cara melakukan proses pembelajaran, pengetahuan cara menilai peserta didik dan sebagainya. Sedangkan dari dari sudut pandangan anak. Implementasi kurikulum menjadi pelik oleh kenyataan bahwa teorinya tidak memasukan hubungan antara berfikir logis dan pelajaran-pelajaran pokok seperti membaca dan menulis, di satu sisi. Adapun di sisi lain, dalam proses pembelajaran harus mengedepankan pembelajaran yang eksplorasi agar dapat memecahkan masalah-masalah sederhana sehingga peserta didik mampu memperoleh banyak pengetahuan dan dapat membekalinya dalam proses berpikir yang ditekankan dalam kurikulum baik berpikir secara konvergen (adanya persamaan) dan divergen (berbeda-beda). Secara proses konvergen anak akan mencari satu jawaban paling benar dan secara divergen anak akan mencari jawaban lebih dari satu. Dalam kehidupan bermain anak tentunya dua proses ini akan terjadi. Misalnya anak dalam bermain mengelompokkan benda berdasarkan bentuknya maka anak mengalami proses berpikir secara konvergen. Adapun implementasi secara nyata dari teori perkembangan kognitif Jean Piaget di atas dalam dunia pendidikan adalah sebagaiberikut: 1. Memfokuskan pada proses berfikir atau proses mental peserta didik tidak sekedar pada produknya. Di samping kebenaran jawaban peserta didik, pendidik harus memahami proses yang digunakan peserta didik sehingga sampai pada jawaban tersebut; 2. Pengenalan dan pengakuan atas peranan peserta didik yang penting sekali dalam inisiatif diri dan keterlibatan aktif dalam kegaiatan pembelajaran. Dalam kelas Piaget penyajian materi jadi (ready made) tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan; 3. Tidak menekankan pada praktek-praktek yang diarahkan untuk menjadikan peserta didik seperti orang dewasa dalam pemikirannya; 4. Penerimaan terhadap perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan, teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh peserta didik berkembang melalui urutan perkembangan yang sama namun peserta didik memperolehnya dengan kecepatan yang berbeda.

E. Kesimpulan Dalam pandangan Piaget, belajar yang sebenarnya bukanlah sesuatu yang diturunkan oleh guru, melainkan sesuatu yang berasal dari dalam diri anak sendiri. Belajar merupakan sebuah proses penyelidikan dan penemuan spontan. Berkaitan dengan belajar, Piaget membangun teorinya berdasarkan pada konsep Skema yaitu, stuktur mental atau kognitif yang menyebabkan seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengoordinasikan lingkungan sekitarnya. Skema pada prinsipnya tidak statis melainkan selalu mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan kognitif manusia. Berdasarkan asumsi itulah, Piaget berpendapat bahwa belajar merupakan proses menyesuaikan pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang telah dipunyai seseorang. Bagi Piaget, proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yakni: asimilasi, akomodasi dan equilibrasi. Kompleksitas pengetahuan dan struktur kognitif tidak dengan sendirinya menyebabkan terjadinya asimiliasi secara mulus. Dalam kasus tertentu asimilasi mungkin saja tidak terjadi karena informasi baru yang diperoleh tidak bersesuaian dengan stuktur kognitif yang sudah ada. Dalam konteks seperti ini struktur kongitif perlu disesuaikan dengan pengetahuan baru yang diterima. Proses semacam ini disebut akomodasi. Penekanan Piaget tentang betapa pentingnya fungsi kognitif dalam belajar didasarkan pada tahap perkembangan kognitif manusia. Demikian makalah yang dapat penulis hadirkan. Tentu makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka saran konstruktif (membangun) sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA Dahar, Ratna Wilis. 2006. Teori – Teori Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Erlangga. Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Djiwandono, Sri Esti Wuryani. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Fatimah, E. 2010. Psikologi Perkembangan (perkembangan peserta didik). Bandung: CV Pustaka Setia. Santrock, John W. 2001. Perkembangan Anak. Edisi kesebelas. Jakarta: Erlangga. Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.

Created By Nurhadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *