Hak dan Kewajiban
Hak dan Kewajiban

HAKIKAT KELUARBIASAAN Part 3 : Kebutuhan serta Hak dan Kewajiban Penyandang Keluarbiasaan

Posted on

Kebutuhan serta Hak dan Kewajiban Penyandang Keluarbiasaan

  • KEBUTUHAN PENYANDANG KELUARBIASAAN

Setiap makhluk mempunyai kebutuhan. sebagai makhluk Tuhan yang dianggap mempunyai derajat tertinggi diantara makhluk lainnya, manusia mempunyai kebutuhan yang barangkali paling banyak dan komplek.

Sebagaimana dikemukakan oleh Maslow (dalam Kolestik, 1984) manusia sebagai makhluk tertinggi memang mempunyai kebutuhan yang sangat komplek, mulai kebutuhan yang sangat mendasar (basic needs), seperti makan, tempat tinggal, dan rasa aman, sampai dengan kebutuhan yang tertinggi, yaitu aktualisasi diri. Tidak berbeda dengan orang-orang normal, para penyandang cacat juga mempunyai kebutuhan yang sama. Kebutuhan penyandang cacat, kita akan mengelompokkannya menjadi kebutuhan fisik/kesehatan, kebutuhan sosial/emosional, dan kebutuhan pendidikan.

  1. Kebutuhan Fisik/Kesehatan

Kebutuhan fisik dan kesehatan yang akan kita bahas lebih banyak dikaitkan dengan kondisi fisik para penyandang keluarbiasaan. Sebagaimana halnya orang normal, para penyandang keluarbiasaan memerlukan fasilitas yang memungkinkan mereka bergerak sesuai dengan kebutuhannya atau menjalankan kegiatan rutin sehari-hari tanpa harus selalu tergantung pada bantuan orang lain.

Sebagaimana halnya orang normal, para penyandang cacat juga mempunyai kebutuhan untuk menjaga kesehatannya. Oleh karena itu, layanan kesehatan bagi anak-anak penyandang cacat seyogianya disediakan sesuai dengan kebutuhanya. Terkait dengan jenis keluarbiasaan yang disandangnya, berbagai layanan kesehatan khusus diperlukan oleh para penyandang keluarbiasaan. Layanan tersebut, antara lain physical therapy dan  occupational therapy, yang keduanya berkaitan dengan ketrampilan gerak (motor skills), dan speech therapy atau bina wicara bagi para tunarungu. Jika physical therapy lebih terkait dengan gerakan bawah tubuh (kaki) maka occupational therapy lebih terkait dengan gerakan bagian atas tubuh, yaitu tangan atau dengan gerakan yang lebih halus. Para ahli yang terlibat dalam menangani kesehatan para penyandang keluarbiasaan terdiri dari dokter umum, dokter gigi, ahli physical therapy dan ahli  occupational therapy, ahli gizi, ahli bedah tulang (orthopedist), ahli THT, dokter spesialis mata dan perawat.

  1. Kebutuhan Sosial-Emosional

Bersosialisasi merupakan kebutuhan setiap makhluk, termasuk para penyandang keluarbiasaan. Oleh karena keluarbiasaan yang disandangnya, kebutuhan tersebut kadang-kadang susah dipenuhi Oleh karena, mereka memerlukan lindungan dan bantuan para pekerja sosial, psikolog dan ahli bimbingan yang dapat membantu mereka dalam menghadapi berbagai masalah yang berkaitan dengan sosialisasi dan menjadi remaja. Masalah-masalah sosialisasi dapat menyebabkan gangguan emosional, lebih-lebih bagi keluarga penyandang keluarbiasaan. Oleh karena itu, bantuan para pekerja sosial, para psikolog, dan ahli bimbingan juga dibutuhkan oleh para keluarga. Bahkan dari pengalaman sehari-hari dapat disimpulkan bahwa keluarga lebih memerlukan bantuan tersebut daripada anak luar biasa sendiri.

  1. Kebutuhan Pendidikan

Kebutuhan pendidikan penyandang keluarbiasaan, meliputi berbagai aspek yang terkait dengan keluarbiasaan yang disandangnya. Secara umum, semua penyandang keluarbiasaan memerlukan latihan ketrampilan/vokasional dan bimbingan karir yang akan memungkinkan mereka mendapat pekerjaan dan hidup mandiri tanpa banyak tergantung dari bantuan orang lain. Para profesional yang terlibat dalam memenuhi kebutuhan pendidikan penyandang keluarbiasaan antara lain guru pendidikan luar biasa, psikolog yang akan membantu banyak dalam mengidentifikasi kebutuhan pendidikan penyandang keluarbiasaan, audiolog, speech therapist, dan ahli bimbingan. Guru PLB dapat merupakan guru tetap di sekolah luar biasa, dapat pula sebagai guru pembimbing khusus di sekolah-sekolah terpadu.

  • HAK PENYANDANG KELUARBIASAAN

Sebagai warga negara, para penyandang keluarbiasaan mempunyai hak yang sama dengan warga negara yang lainnya. Dalam pasal 31 UUD 1945 disebutkan bahwa semua warga negara berhak mendapat pendidikan. Hal ini dijabarkan lebih lanjut dalam Bab III Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dari Bab III tersebut ada dua pasal yang berkaitan dengan penyandang keluarbiasaan.

Pasal 6

Setiap warga negara berhak atas kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti pendidikan agar memperoleh pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan yang sekurang-kurangnya setara dengan pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan tamatan pendidikan dasar.

Pasal 8

  1. Warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa.
  2. Warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus.

Hak untuk mendapatkan pendidikan bukan hanya dilindungi Undang-undang satu negara, tetapi tercantum dalam Deklarasi Umum Hak-hak Kemanusiaan 1948 ( The 1948 Universal Declaration of Human Rights), kemudian diperbaharui pada konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua, Tahun 1990 (The 1990 World Conference on Education for All), yang bertujuan untuk meyakinkan bahwa hak tersebut adalah hak semua, terlepas dari perbedaan yang dimiliki oleh individu.

Kerangka Kerja untuk Pendidikan Anak Luar Biasa, yang antara lain menyebutkan bahwa:

  1. Setiap anak punya hak yang fundamental untuk mendapat pendidikan, dan harus diberi kesempatan untuk mencapai dan memelihara tahap belajar yang dapat diterimanya;
  2. Setiap anak punya karakterisktik, minat, kemampuan, dan kebutuhan belajar yang unik;
  3. Sistem pendidikan harus dirancang dan program pendidikan diimplementasikan dengan mempertimbangkan perbedaan yang besar dalam karakterisktik dan kebutuhan anak;
  4. Mereka yang mempunyai kebutuhan belajar khusus (anak luar biasa) harus mempunyai akses ke sekolah biasa yang seyogianya menerima mereka dalam suasana pendidikan yang berfokus pada anak sehingga mampu memenuhi kebutuhan mereka: serta
  5. Sekolah biasa dengan orientasi inklusif (terpadu) ini merupakan sarana paling efektif untuk melawan sikap diskriminatif, menciptakan masyrakat yang mau menerima kedatangan anak luar biasa, membangun masyarakat yang utuh terpadu dan mencapai pendidikan untuk semua; dan lebih-lebih lagi sekolah biasa dapat menyediakan pendidikan yang efektif bagi mayoritas anak-anak serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas biaya bagi seluruh sistem pendidikan.

Jika kita simak baik-baik kelima butir di atas, kita akan menyadari bahwa sebagai guru, kita wajib memberikan kesempatan kepada anak luar biasa dalam mengaktualisasikan dirinya melalui sekolah. Guru wajib memvariasikan perlakuan yang diberikan kepada setiap anak sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan mereka karena mereka berhak untuk belajar sesuai dengan tahap-tahap belajar yang sesuai bagi mereka.

  • KEWAJIBAN PENYANDANG KELUARBIASAAN

Sebagai warga negara para penyandang keluarbiasaan juga mempunyai kewajiban yang harus dipenuhi. Hak dan kewajiban selalu berdampingan. Penyandang keluarbiasaan bukanlah orang yang istimewa yang hanya menuntut hak, tetapi mereka adalah orang biasa yang  wajib menghormati hak orang lain, menaati berbagai aturan yang berlaku, berperan serta dalam berbagai kegiatan bela negara sesuai dengan kemampuan mereka, berperilaku sopan dan santun, serta kewajiban lain yang berlaku bagi setiap warga negara. Sesuai dengan hakikat keluarbiasaan yang disandangnya, penyandang keluarbiasaan juga wajib menaati hukum yang berlaku, dan kalau ia melanggar, ia juga wajib dihukum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *