Televisi media pembelajaran

Fungsi Media Belajar ” Televisi ” dari Kardus Bekas dalam Proses Pembelajaran Anak Usia Dini

Posted on

FUNGSI MEDIA BELAJAR “TELEVISI” DARI KARDUS BEKAS DALAM PROSES PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI

A. Latar Belakang

Masalah Dunia pendidikan adalah dunia yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Manusia yang selalu diiringi dengan pendidikan, kehidupannya akan selalu berkembang ke arah yang lebih baik, tidak asa zaman yang tidak berkembang, tidak ada kehidupan manusia yang tidak bergerak, dan tidak ada manusia pun yang hidup dalam stagnasi peradaban, semua itu bermuara pada pendidikan, karena pendidikan adalah pencetak peradaban manusia. Adanya perkembangan kehidupan, pendidikan pun mengalami dinamika yang semakin lama semakin berkembang dan berusaha beradaptasi dengan gerak perkembangan yang dinamis tersebut. Itulah sebabnya, pendidikan yang kini diterapkan kepada anak zaman sekarang tidak sama dengan pendidikan yang ditampilkan oleh orang tua sewaktu muda yaitu ketika belajar di sekolah. Setiap zaman, pasti akan selalu ada perubahan yang mengarah kepada kemajuan pendidikan yang semakin baik (Hamid, 2012:11-12). Hal ini menunjukkan bahwa sekolah harus memperhatikan kegiatan pembelajaran bagi peserta didik dalam rangka memberikan pengetahuan yang dapat dijadikan sebagai bekal ketika hidup bermasyarakat tidak terkecuali pendidikan anak usia dini. Pendidikan usia dini memegang peranan penting dan sangat esensial memberikan pengaruh yang sangat dalam, yang mendasari proses pendidikan dan perkembangan anak selanjutnya. Usia lima tahun pertama pada masa kanak-kanak sebagai masa terbentuknya kepribadian dasar individu. Kepribadian orang dewasa, ditentukan oleh cara-cara pemecahan konflik antara sumber-sumber kesenangan awal dengan tuntutan realita pada masa kanak-kanak. Pada masa ini penuh kejadian-kejadian yang penting dan unik (a highly eventfull and unique period of life) yang meletakkan dasar bagi kehidupan seseorang di masa dewasa. Nurhayati meyakini bahwa pengalaman-pengalaman belajar awal tidak akan pernah tergantikan oleh pengalaman-pengalaman berikutnya, kecuali dimodifikasi. Oleh karena itu, pentingnya pendidikan kanak-kanak, menuntut adanya pemahaman dan persiapan bagaimana model pembelajaran yang tepat untuk menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik sehingga berkembang secara optimal (Nurhayati, 2011:3 – 4). Namun, pada kenyataannya ada beberapa problem dalam proses pembelajaran, ditemukan beberapa, baik problem secara:

(1) kultural, yaitu problem yang bersumber dari pemahaman atau asumsi pendidik terhadap proses pembelajaran. Bahwa pembelajaran hanya akan dilaksanakan di dalam kelas secara klasikal; di mana problem ini sangat menghambat proses pembelajaran; atau

(2) metodologis, yaitu adanya pemahaman pendidik terhadap cara atau metode mengajar. Bahwa pendidik yang memiliki problem ini sering tidak mau dan malas menggunakan metode lain selain yang dilakukan selama ini; atau

(3) sosial, yaitu problem yang melahirkan kesulitan komunikasi antara pendidik dengan peserta didik. Bahwa problem ini pendidik aka sulit mempraktekkan model pembelajaran khususnya pembelajaran yang mampu menggugah semangat peserta didik (Muchith, dkk, 2010:123 – 124), di satu sisi. Kenyataan lainnya, juga sering terjadi pada peserta didik saat ini, di mana peserta didik menganggap bahwa aktivitas yang mengasyikkan justru berada di luar jam pelajaran. Hal ini dikarenakan selama ini peserta didik merasa terbebani ketika berada di dalam kelas, apalagi jika harus menghadapi mata pelajaran tertentu yang membosankan, di sisi lain (Asnawir dan M. Basyiriddin, 2002:102). Kenyataan-kenyataan tersebut, jika dibiarkan dan berlanjut secara terus menerus, maka peserta didik akan sulit bersaing, sulit mengingat dan memahami informasi, dan sulit menerapkan apa yang telah didapatkan secara kontekstual melalui beragam kompetensi yang dimiliki peserta didik (Yamin dan Ansari, 2009:3). Oleh karena itu, pendidik perlu melakukan inovasi pembelajaran agar peserta didik menjadi semangat, mempunyai motivasi untuk belajar, dan antusias menyambut pelajaran di sekolah sesuai dengan yang diharapkan. Sebab, upaya meningkatkan mutu pendidikan sangat tergantung dari munculnya gagasan atau ide dan perilaku pembelajaran pendidik yang kreatif dalam mencapai hasil pendidikan yang memadai, baik yang berhubungan dengan merancang dan mempersiapkan bahan ajar atau materi pelajaran, mengelola kelas, menggunakan metode, teknik dalam proses pembelajaran, penggunaan strategi pembelajaran, dan memanfaatkan media pembelajaran (Agung, 2010:vi-vii). Dengan demikian tujuan pembelajaran anak usia dini dapat tercapai dengan baik, bukan hanya sekedar untuk mencari nilai, skor, peringkat, atau semacamnya, tetapi sekolah akan mampu menjadi tempat atau sarana belajar untuk kehidupan selanjutnya.

Salah satu terobosan yang dapat dilakukan oleh pendidik adalah melakukan pembelajaran dengan menggunakan atau membuat kreativitas, inovasi Alat Pendidikan Edukatif (APE) membuat televisi dengan kardus bekas. Hal ini dilakukan dalam rangka agar peserta didik lebih memahami tentang alat-alat komunikasi yang menjadi tema atau materi pelajaran yang sedang dibahas, di satu sisi. Selain itu, agar peserta didik mengenal tentang jenis-jenis komunikasi yang digunakan dalam sehari-hari, di sisi lain. Dengan demikian, maka hasil pembelajaran sesuai dengan harapan pendidik dan mampu mencapai indikator yang telah tersurat dalam kurikulum. Penulis dalam makalah ini mencoba mendeskripsikan fungsi media pembelajaran “televisi” dari kardus bekas dalam proses pembelajaran anak usia dini di TK Pertiwi Desa Kalisaleh Kec. Belik Kab. Pemalang.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang bidikan dalam rumusan masalah ini sebagai berikut: 1. Bagaimana pengertian media pembelajaran? 2. Apa fungsi media pembelajaran dalam proses pembelajaran anak usia dini? 3. Apa yang dibutuhkan dalam pembuatan dan bagaimana cara penggunaan televisi dari kardus bekas sebagai media pembelajaran dalam proses pembelajaran anak usia dini?

C. Pembahasan Masalah

Pembelajaran merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang memadukan secara sistematis dan berkesinambungan suatu kegiatan. Proses pembelajaran bagi anak usia dini adalah proses interaksi antara peserta didik, sumber belajar, dan pendidik dalam suatu lingkungan belajar tertentu. Pembelajaran pada anak usia dini bersifat spesifik didasarkan pada tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan anak dengan mengembangkan aspek-aspek perkembangan yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional, kemandirian, berbahasa, kognitif, fisik/motorik dan seni. Keberhasilan proses pembelajaran ini ditandai dengan tercapainya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik secara optimal dan dengan hasil yang mampu menjembatani peserta didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan perkembangan berikutnya. Untuk mencapai keberhasilan, maka pembelajaran pada anak usia dini harus dilaksanakan sesuai dengan tahap perkembangannya. • Pengertian Media Pembelajaran Media merupakan salah satu alat penyampai materi kepada peserta didik. Dalam hal ini, media tidak hanya dipahami sebagai alat peraga, tetapi juga sebagai pembawa informasi atau pesan pembelajaran kepada peserta didik. Keberadaan media akan menambah pembelajaran lebih menarik, interaktif, dan menyenangkan sehingga secara tidak langsung kualitas pembelajaran pun dapat ditingkatkan ke arah yang lebih baik dan bermutu, di satu sisi. Pembelajaran juga dapat dilakukan kapan dan di mana saja sesuai dengan yang diinginkan, di sisi lain. Dengan kata lain, bahwa dengan adanya media, proses pembelajaran akan berjalan lebih maksimal. Istilah media berasal dari kata jamak medium, yang memiliki arti perantara. Selain itu media juga diartikan sebagai sesuatu yang terletak di tengah-tengah. Maksudnya adalah suatu perantara yang menghubungkan semua pihak yang membutuhkan terjadinya suatu hubungan, dan membedakan antara media komunikasi dan alat bantu komunikasi. Oleh karena itu, dalam hal pembelajaran media merupakan alat yang berfungsi untuk menyampaikan informasi kepada peserta didik (Fadhillah, 2012:206). Yusufhadi Miarso menyebutkan bahwa yang dinamakan media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyampaikan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran yang disengaja, dan terkendali (Miarso, 2007:458). Adapun pengertian media pembelajaran menurut Moh. Sholeh Hamid 2012:150) adalah alat-alat fisik untuk menyampaikan materi pelajaran dalam bentuk buku, film, rekaman, dan sebagainya. Atau media merupakan alat untuk memberikan perangsang bagi peserta didik supaya terjadi proses belajar. Berangkat dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan, bahwa media pembelajaran adalah suatu alat fisik yang dijadikan sebagai perantara dalam menyampaikan pesan atau informasi atau materi pelajaran yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, perangsang, dan kemauan peserta didik sehingga terjadi proses belajar.

Fungsi Media Pembelajaran Dalam Proses Pembelajaran Anak Usia Dini Media dalam pembelajaran memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses pembelajaran yang efektif, sebab dengan adanya media bahan dapat dengan mudah dipahami oleh peserta didik. Oleh karena itu, menurut Nana Sudjana ada beberapa fungsi media dalam proses pembelajaran, yaitu sebagai berikut: a. Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang efektif; b. Merupakan bagian integral dalam proses pembelajaran dan salah satu unsur yang harus dikembangkan oleh pendidik; c. Merupakan bagian integral dalam mencapai tujuan dan isi pelajaran; d. Mampu menarik perhatian peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran; e. Mampu mempercepat proses pembelajaran dan membantu peserta didik dalam menangkap pengertian atau materi yang disampaikan pendidik; dan f. Mampu membantu peserta didik dalam mengingat dan pada akhirnya mutu pembelajaran menjadi lebih berkualitas (Sudjana, 2005:99 – 100). Sudjana lebih lanjut mengatakan, media memiliki fungsi selain juga memiliki nilai. Adapun nilai dari media adalah sebagai berikut: a. Dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berpikir atau dapat mengurangi verbalisme; b. Dapat memperbesar minat dan perhatian peserta didik untuk belajar; c. Dapat meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar lebih maksimal; d. Dapat memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri pada peserta didik; e. Dapat menumbuhkan pemikiran dan membantu berkembangnya kemampuan berbahasa; f. Dapat menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan; dan g. Dapat memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna (Sudjana, 2005:100). Adapun fungsi media dalam pembelajaran menurut Fadhillah adalah sebagai berikut: a. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan; b. Proses pembelajaran lebih menarik; c. Pembelajaran lebih interaktif; d. Jumlah waktu pembelajaran dapat dikurangi; e. Kualitas belajar peserta didik dapat ditingkatkan; f. Prose pembelajaran dapat terjadi di mana saja dan kapan saja; g. Sikap positif peserta didik terhadap proses pembelajaran dapat ditingkatkan; dan h. Peran pendidik dapat berubah ke arah yang lebih positif dan produktif (Fadhillah, 2012:207-208). Prawiradilaga dan Siregar juga mengutarakan fungsi media dalam pembelajaran, yaitu sebagai berikut: a. Memberikan pengetahuan tentang tujuan belajar; b. Memotivasi peserta didik; c. Merangsang diskusi; d. Mengarahkan kegiatan peserta didik; e. Melaksanakan latihan dan ulangan; f. Menguatkan belajar; dan g. Memberikan pengalaman simulasi (Prawiradilaga dan Siregar, 2004:9-13). • Cara Pembuatan dan Penggunaan “Televisi” dari Kardus Bekas Sebagai Media Pembelajaran Dalam Proses Pembelajaran Anak Usia Dini a. Cara Pembuatan “Televisi” dari Kardus Bekas Sebelum membuat televisi dari kardus bekas harus disiapkan beberapa alat untuk membuat televisi, yaitu: 1. Kardus bekas sarimi atau yang sejenis 2. Gunting atau pisau 3. Lem kertas (lem fox) 4. Pensil atau bolpen 5. Penggaris 6. Pewarna atau cat warna (jika dibutuhkan) Adapun cara pembuatan televisi dengan kardus bekas sebagai media belajar dalam proses pembelajaran sebagai berikut: Langkah pertama: Kardus masih dalam keadaan utuh dan belum digunting kerangka televisi Langkah kedua: Kardus dipotong dengan pisau atau gunting dengan ukuran diameter panjang 50 cm x tinggi 30 cm, sebanyak 2 biji untuk bagian depan dan belakang Langkah ketiga: Kardus dipotong dengan pisau atau gunting dengan panjang 60 cm x 40 cm. Lipat bagian kanan, kiri, atas bawah masing-masing 5 cm sebagai pengait dengan kardus bagian depan dan belakang. Langkah keempat: Potong lingkaran dengan ukuran diameter 5 cm, 4 cm, dan 3 cm, masing-masing 2 biji. Ini akan digunakan untuk tombol mati/hidup (on/off), program (canel) dan volume (suara) Langkah kelima: Potonglah setengah lingkaran dengan diameter 6 cm. Ini digunakan sebagai tumpuhan antena manual Langkah keenam: Potonglah persegi panjang sebanyak 2 biji (ukuran menyesuaikan) digunakan sebagai antena manual Keterangan: 1. Box televisi 2. Layar televisi 3. Tombol on/off 4. Tombol program/cannel 5. Tombol volume/suara 6. Tumpuhan antena 7. Antena Langkah ketujuh: Rangkailah potong-potongan kardus yang telah adalah dengan lem kertas (lem fox) sehingga terbentuk televisi seperti televisi lazimnya b. Penggunaan “Televisi” dari Kardus Bekas Cara penggunaan televisi dari kardus bekas tersebut tentunya disesuaikan materi pelajaran yang sedang berlangsung adalah sebagai berikut: Kegiatan Pendahuluan: – Pendidik menyebutkan atau memberitahukan kepada peserta didik tentang tema materi yang akan diajarkan, yaitu alat komunikasi – Pendidik memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyebutkan beberapa alat komunikasi yang telah diketahui atau dimiliki di rumah – Pendidik kemudian menyebutkan salah satu alat komunikasi yang dimiliki peserta didik di rumah yaitu televisi Kegiatan Inti: – Pendidik menyiapkan atau menunjukkan televisi dari kardus bekas di meja pendidik kemudian bertanya kepada peserta didik alat komunikasi ini apa namanya – Pendidik selanjutnya menerangkan fungsi televisi dan kesukaan acara yang suka ditonton kepada peserta didik – Pendidik menanggapi jawaban peserta didik tentang fungsi televisi sebagai alat komunikasi – Pendidik mengobservasi dan mencatat di lembar observasi tentang proses pembelajaran materi alat komunikasi – Pendidik menyimpulkan hasil jawaban peserta didik tentang fungsi televisi sebagai alat komunikasi Kegiatan Penutup: – Pendidik menyimpulkan dari kegiatan pembelajaran dengan sumber pembelajaran alat komunikasi dengan televisi dari kardus bekas – Pendidik memotivasi kepada peserta didik agar lebih rajin belajar – Menutup kegiatan pembelajaran

D. Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan deskripsi di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa dalam kegiatan pembelajaran anak usia dini agar peserta didik dapat memahami dan atau menerima materi pelajaran dengan baik dapat dilakukan dengan alat bnantu atau media pembelajaran. Adapun terkait dengan materi atau tema pembelajaran alat komunikasi bisa dilakukan dengan bantuan APE televisi dari kardus bekas. APE televisi dari kardus bekas ini mempunyai beberapa fungsi antara lain, sebagai berikut: (1) mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang efektif; (2) mampu menarik perhatian peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran; (3) mampu mempercepat proses pembelajaran dan membantu peserta didik dalam menangkap pengertian atau materi yang disampaikan pendidik; (4) mampu membantu peserta didik dalam mengingat dan pada akhirnya mutu pembelajaran menjadi lebih berkualitas; (5) mampu meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berpikir atau dapat mengurangi verbalisme; (6) mampu memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri pada peserta didik; (7) penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan; (8) proses pembelajaran lebih menarik; (9) pembelajaran lebih interaktif; (10) kualitas belajar peserta didik dapat ditingkatkan; (11) memberikan pengetahuan tentang tujuan belajar; (12) mengarahkan kegiatan peserta didik; (13) mampu menguatkan belajar peserta didik; dan (14) mampu memberikan pengalaman simulasi. Saran yang hendak penulis sampaikan dalam makalah ini adalah: bahwa pendidik dalam melakukan pembelajaran tak terkecuali pembelajaran dalam memperkenalkan alat komunikasi harus mampu memilah, memilih, dan mempraktikkan strategi pembelajaran yang tepat dan secara efektif serta efisien. Selain itu, kepala sekolah harus mampu melakukan terobosan-terobosan terbaru untuk peningkatkan kemampuan pendidik, inovasi pendidikan dalam mewujudkan rangka meningkatkan mutu pendidikan sehingga mampu menciptakan output (lulusan) yang handal baik dalam ranah afektif, kognitif, dan psikomotorik, walaupun sekolah harus mengeluarkan biaya dalam mendukung daya kreativitas pendidik untuk meningkatkan mutu pendidikan. Demikian makalah yang dapat penulis paparkan, saran dan kritik yang membangun (konstruktif) sangat penulis harapkan demi kesempurnaan selanjutnya, dan untuk meningkatkan proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Agung, Iskandar, 2010. Meningkatkan Kreativitas Pembelajaran Bagi Guru. Jakarta: Bestari Buana Murni. Asnawir dan M. Basyiriddin. 2002. Teknologi Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Pers. Fadlillah, Muhammad, 2012. Desain Pembelajaran PAUD. Yogyakarta: Arruzz Media. Hamid, Sholeh, Moh., 2012. Metode Edutainment. Yogyakarta: Diva Press. Miarso, Yusufhadi, 2007. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana. Muchith, Saekan, M., dkk. 2010, Cooperative Learning. Semarang: Rasail Media Group. Nurhayati, Eti, 2011. Psikologi Pendidikan Inovatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Prawiradilaga, Salma, Dewi dan Eveline Siregar, 2004. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana. Sudjana, Nana, 2005. Dasar-dasar Prose Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Yamin, Martinis dan Bansu I. Ansari, 2009. Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa. Jakarta: Grafika Press

Writed By Nurhadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *